PROGRAM Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial (Prodi IKS) Fisip UMSU menggelar seminar bertema Tantangan dan Peluang Pekerja Sosial (Peksos) Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), Kamis (23/4) di aula Penjamin Mutu, Kampus UMSU Muchtar Basri Medan. Kegiatan yang dibuka Dekan Fisip UMSU Rudianto, M.Si menghadirkan dua pembicara dari Jawa, yakni Drs. Rudi Saprudin Darwis, M.Si, Dosen IKS Fisip Unpad Bandung yang juga Ketua Lembaga Sertifikasi Pekerjaan Sosial dan Drs. Oman Sukmana, M.Si, Ketua Prodi IKS Fisip Universitas Muhammadiyah Malang. “Tidak akan bisa dihindari, salah satu dampak dari MEA itu nantinya adalah makin kompleksnya masalah-masalah sosial di tengah masyarakat, misalnya trafficking atau perdagangan manusia dan peredaran narkoba yang semakin sulit diatasi. Jadi alumi IKS UMSU bisa berperan dalam hal ini,” ujar Rudianto di hadapan ratusan peserta seminar yang berasal dari mahasiswa IKS, dosen, alumni dan juga stakehloders. Arifin Saleh, Ketua Prodi IKS Fisip UMSU dalam sambutannya mengatakan seminar ini merupakan bagian dari upaya persiapan dalam menghadapi sekaligus bersaing untuk merebut peluang dalam era bebas Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). “Lulusan IKS UMSU disiapkan dalam hal problem solver atau untuk menjadi ahli-ahli dalam mengatasi masalah-masalah sosial. MEA yang sudah di depan mata harus dihadapi dan peluang-peluang yang ada harus bisa direbut,” katanya. Pembicara Oman Sukmana dalam paparannya menyatakan kesepakatan MEA akan membuka posisi-posisi strategis sebagai peluang untuk lulusan IKS yang juga nantinya akan disiapkan menjadi pekerja sosial. Dengan adanya MEA, kesempatan bagi pekerja social akan semakin terbuka, misalnya sebagai CSR officer, community develovment officer, social planner, konselor untuk korban narkoba, dan aktif di NGO internasional. “Pemerintah juga sudah menyiapkan RUU Pekerja Sosial dan sudah masuk program legislasi nasional. Artinya, keberadaan Peksos akan semakin diakui dan dilindungi oleh negara,” ujarnya. Lulusan IKS yang akan disiapkan jadi peksos ini juga ditekankan pembicara kedua Rudi Saprudin Darwis. Menurutnya, peksos Indonesia harus terus berbenah dan ke depan mereka harus me miliki sertifikasi dan lisensi sehingga mampu bersaing dengan negara lainnya. Dalam pasar besar MEA, siapa pun boleh bekerja di semua Negara Asean. Agar peluang dalam bidang social ini tidak diambil orang luar, maka kualitas peksos harus disiapkan sehingga mereka memiliki kompetensi dan profesionalitas. “Peksos di Filipina, Thailand, dan Singapur lebih terlatih, terampil dan memiliki skil. Ini yang akan jadi lawan kita,” tegas Rudi, Pihaknya sendiri sebagai Ketua Lembaga Sertifikasi Pekerja Sosial, selain mengeluarkan sertifikat untuk pekerja sosial juga terus melakukan pembinaanpembinaan agar peksos di Indonesia mendapat pengakuan dan juga memilikikompetensi dan keterampilan dalam menangani masalah-masalah sosial yang ada di tenga masyarakat. (*)

